BHAKTI

INTERNALISASI KONSEP BHAKTI DALAM SISTEM PENDIDIKAN GUNA MEMBANGUN KARAKTER ANAK, GENERASI MUDA, DAN MAHASISWA PERSPEKTIF AGAMA HINDU1)

Oleh : I Ketut Donder2) 

 donder5

I.       PENDAHULUAN

GANESHA STAVA

VAKRA TUNDA MAHAKAYA, SURYA KOTI SAMA PRABHA, NIRVIGHNAM KURUME DEVA, SARVA KARYESUSARVADHA.

 

SARASVATI STAVA

SARASVATI NAMOSTUBHYAM VARADE KAMARUPINI, VIDYA RAMBHA KARISHYAMI, SIDDHIRBHAVANTU MESADHAM.

PEDIDIKAN YANG SEMPURNA PENDIDIKAN YANG MENYANGKUT
PENDIDIKAN SAKALA-NISKALA

II. PEMBAHASAN

  • Ne sakala lan niskala, atepang mangden mamesik, reh jati palinggan tunggal, Hyang Wisesa ngaraganin, da malasang di hati, tingkahe nibakang unduk, kayane patut jalanang, kaniskala mangden pasti, mudra iku, tikasing parek ring Hyang

                                                                                    (Sucita I.I.31- Pupuh Sinom)

 

  • Yaning manut marga byasa, kacuping tangane kalih, munggwing selaning lalata, masih manggo tanda bakti, anteng manyurat galitik, sarwa tuture rahayu, ngarisakin pamujaan, sakalwir punika sami, soroh mawug, pabaktyan ring niskala.

                                                                                    (Sucita I.I.32, Pupuh Sinom)

 

  • linggih, mamepes matatanganan, sebeng lan samita manis, tanmari manudut hati, da caluh matingkah ngagu, apang mangden twara bina, tingkahe mangardi becik, apang patuh, sok rupan tingkahe bina.

                                                                                   

(Sucita I.I.33, Pupuh Sinom)

  • Keto solahe di kaya, ring sabda jani itungin, bakti anteng mangastawa, ring Ida Hyang maweh hurip, lengkara pang twara pelih, miwah anteng maca tutur, saha ngrambang darma tatwa, miwah ne mangardi becik, ento mawug, silan sabda kaniskala.

                                                                                    (Sucita I.I.34 Pupuh Sinom)

 

KONSEP BHAKTI DAN PEMBENTUKAN KARAKTER

  • SEORANG ANAK HARUS SELALU MELAKUKAN APA YANG DISETUJUI OLEH KEDUA ORANGTUANYA DAN APA YANG MENYENANGKAN GURUNYA. KALAU KETIGA ORANG ITU (IBU, AYAH, DAN GURU) SENANG, MAKA SEORANG ANAK (SISWA) AKAN MENDAPATKAN SEGALA PAHALA DARI TAPABRATANYA.   (Manava Dharmacastra II.228)

 

 

  • SEORANG ANAK YANG TAAT TERHADAP AYAH, IBU DAN GURUNYA DINYATAKAN SEBAGAI BENTUK TAPA (DISIPLIN SPIRITUAL) YANG TERBAIK, IA HENDAKNYA TIDAK MELAKUKAN SESUATU YANG TANPA IZIN DARI MEREKA (IBU, AYAH DAN GURU).

                                                                        (Manava Dharmacastra II.229)

 

  • MEREKA ITU (IBU, AYAH DAN GURU) ADALAH MANIFESTASI DARI TIGA DUNIA (BHUR, BHUAH, SVAH) JUGA SEBAGAI HUKUM ABADI. MEREKA JUGA DIPANDANG SEBAGAI LAMBANG TIGA VEDA, JUGA DIPANDANG SEBAGAI TIGA API SUCI.

                                                                        (Manava Dharmacastra II.230)

 

INTERNALISASI KONSEP BHAKTI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

  • MITRU DEVO BHOVO

   = IBU ADALAH PERWUJUDAN NYATA   

       DARI TUHAN

 

  • PITRU DEVO BHOVO

   = AYAH (BAPAK) ADALAH PERWUJUDAN

       NYATA DARI TUHAN

 

  • ACHARYA DEVO BHOVO

   = GURU ADALAH PERWUJUDAN 

       NYATA DARI TUHAN

 

  • ATITHI DEVO BHOVO

    = TAMU ADALAH PERWUJUDAN NYATA DARI TUHAN

 

HARI BHAJANA BHINA SUKHA SANTHI NEHI

 

HARI NAMA BHINA ANANDA NEHI,

 

PREMA BHAKTI BHINA UDARA NEHI

 

GURU SEVA BHINA NIRVANA NEHI

 

KAKI GURU DAN KEPALAKU

 

  • Banyak orang berpendapat bahwa kepala adalah anggota tubuh yang paling terhormat. Kata mereka; kepala juga adalah simbol martabat seseorang. Terlepas dari semua itu, kepalaku bukan kepala sebagaimana pendapat umum itu, kepalaku hanyalah tengkorak tulang yang berisi sedikit sekali pengetahuan semesta. Sastra kuno menyatakan bahwa pengetahuan semesta ada di telapak kaki guru, karena itu kepalaku lebih cocok ada di dekat kaki guru. Biarlah kepalaku menggelinding dari satu kaki guru ke kaki guru yang lainnya, agar kepalaku tidak semata-mata menjadi tengkorak tulang yang sia-sia. (I Ketut Donder)

 

  • Manasah bhajare guru charanam dustharah bhava sagara tharanam

 

MANAVA SEVA MADHAVA SEVA MENGANDUNG MAKNA

  • PELAYANAN    KEPADA    ORANG    LAIN  

 =   PELAYANAN  KEPADA TUHAN

 =   PELAYANAN KEPADA DIRI SENDIRI

  • TANGAN YANG MELAYANI LEBIH MULIA DARI
    MULUT YANG KOMAT- KAMIT
  • PELAYANAN    KEPADA    ORANG

= PELAYANAN  KEPADA TUHAN

= PELAYANAN KEPADA DIRI SENDIRI

= TANGAN YANG MELAYANI LEBIH MULIA DARI MULUT YANG KOMAT- KAMIT

  

WANARA – NARA – NARAYANA
DANAWA – MANAWA –MADAWA

 

PELAYANAN    KEPADA    ORANG    LAIN   

    = PELAYANAN  KEPADA TUHAN

    = PELAYANAN KEPADA DIRI SENDIRI

   

TUHAN BERSEMAYAM DI HATI (HRDAYA CAKRA)

 

TANGAN YANG MELAYANI LEBIH MULIA DARI MULUT YANG KOMAT- KAMIT

 

TANTANGAN PARA GURU DAN ORANG TUA DALAM DUNIA PENDIDIKAN DEWASA INI

 

  1. TIDAK MUDAH UNTUK MELAKSANAKAN PROSES PENDIDIKAN DEWASA INI
  2. KSATRIYA BAJA HITAM, POWER RANGERS, SPIDERMAN, BATMAN, SUPERMAN, SINCHAN, DORAEMON, SCOBYDOO, NARUTO, TOM AND JERRY, TELAH MENGGANTIKAN PERAN ORANGTUA DAN GURU
  3. ORANGTUA DAN GURU HARUS MENINGKATKAN KERJASAMANYA (RG. X.191:2)

 

PENDIDIKAN DEWASA INI

  • Present day education develops the intellect and skills but does little to develop good qualities. Of what avail is all the knowledge in the world, if one has not got good character. It is like water going down the drain. There is no use if knowledge grows while desires multiply. It makes one a hero in words and a zero in action

 

  • ‘Pendidikan saat ini hanya berorientasi untuk mengembangkan kepandaian dan keterampilan dengan sedikit menitik beratkan pada kualitas yang baik. Apalah artinya semua pendidikan yang ada di dunia jika seseorang tidak memiliki karakter yang baik, ibarat mata air yang makin lama makin kering. Tidak ada gunanya jika pendidikan berkembang disertai dengan nafsu yang berlebihan. Inilah yang membuat manusia menjadi pahlawan dalam kata-kata tetapi tidak pernah berbuat apa-apa’.
  •                                                 (Sri Bhagavan Sathya Sai Baba)

 

KEBUTUHAN SAAT INI

 

Man’s  achievements in the field of science and technology have helped to improve the material conditions of living. What we need today, however is a transformation of the spirit. Education should serve not only to develop one’s intelligence and skills, but also help to broaden one outlook and make him useful to society and the world at large. This possible only when cultivation of the spirit is promoted along with education in the physical science. Moral and spiritual  education waill train a man to lead a disciplined life.

 

‘Kemampuan manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak mengangkat derajat kehidupan material manusia itu sendiri. Apa yang kita butuhkan saat ini adalah perubahan semangat. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengembangkan kepandaian dan keterampilan seseorang, tetapi juga harus dapat memperluas cakrawala dan cara pandang seseorang sehingga dapat membuatnya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat luas. Hal ini hanya mungkin terjadi jika pengembangan semangat tersebut dilaksanakan bersama-sama dengan pendidikan ilmu-ilmu fisik. Pendidikan moral dan spiritual akan melatih manusia ke dalam kehidupan yang lebih disiplin’.

                                                                              (Sri Bhagavan Sathya Sai Baba)

 

NITI SASTRA DAN PROSES PENDIDIKAN YANG BERTANGGUNGJAWAB

 

  1. Anak yang sudah berumur 5 tahun, hendaknya diperlakukan seperti raja,
  2. Jika sudah berumur 7 tahun dilatih agar menurut,
  3. Jika sudah berumur 16 tahun dijadikan sahabat,
  4. Jika ingin menunjukkan kesalahannya harus dengan hati-hati
  5. Jika mereka (putra-putri) kita sudah berumahtangga cukup diawasi saja (jangan mendikte lagi)
  6. Jika ingin memberikan pelajaran, cukup dengan isyarat (saran) saja

                                                                        (Niticastra, Sargah IV.20)

 

JANGAN MEMANJAKAN ANAK (SISWA, MAHASISWA)

 

  1. PARA ORANGTUA DAN PARA GURU JANGAN MEMANJAKAN ANAK ATAU SISWANYA

 

  1. ANAK (SISWA) YANG DIMANJA AKAN MEMILIKI BANYAK KELEMAHAN (BAHKAN JAHAT, KARENA AKAN BANYAK MENYIMPANG DARI JALAN YANG BENAR)

 

  1. ORANGTUA YANG BIJAK HARUS SELALU SADAR BAHWA SUATU KETIKA IA AKAN MENINGGALKAN PUTRA-PUTRINYA, ANAK YANG MANJA TIDAK AKAN MAMPU MEMIKUL TANGGUNGJAWAB SEPENINGGAL ORANGTUANYA

 

  1. PUTRA-PUTRI YANG DIDIDIK DENGAN DISIPLIN AKAN TUMBUH DENGAN PERANGAI YANG BAIK.

 

  1. ANAK YANG DEMIKIAN AKAN DIHORMATI OLEH SEMUA ORANG DAN DISAYANGI SERTA DIHARGAI OLEH ORANG-ORANG BAIK. 

 

PENDIDIKAN SEJATI MEMANUSIAKAN MANUSIA

Education without self-control is no education at all. True education should  make a person compassionate and humane. It shoul not make him self centered and narrow minded. Spontaneous sympathy and regard for all beings should be keen to serve society rather than be preoccupied with his own acquisitive aspirations. This should be the real purpose of education in its true sense.

 

Pendidikan tanpa pengendalian diri bukanlah pendidikan. Pendidikan sejati harus dapat menjadikan manusia menajdi lebih tabah dan manusiawi. Pendidikan jangan sampai membuat manusia menjadi egois dan berpikiran sempit. Rasa simpati yang spontan dan penghargaan terhadap seluruh mahluk harus menjadi landasan dalam melayani masyarakat daripada hanya bergelut dengan keinginan dan kesenangan pribadi. Pada intinya hal inilah yang harus menjadi tujuan yang sebenarnya dari pendidikan itu sendiri.

                                                                            (Sri Bhagavan Sathya Sai Baba)

 

KARAKTER ADALAH HADIAH YANG PALING BERHARGA DARI PENDIDIKAN

 

Character is the most precious gift of education

Karakter adalah hadiah yang paling berharga dari pendidikan

                                                                        (Sri Bhagavan Sathya Sai Baba)

 

AKHIR DARI PENDIDIKAN

 

The end of education is character. And character consist of eagerness to renounce one’s selfish greed

 

Akhir dari pendidikan adalah karakter. Dan karakter mengandung keinginan untuk merenungkan

ketamakan diri sendiri.

                                                                        (Sri Bhagavan Sathya Sai Baba) 

 

 Together with worldly education, you have to cultivate the human values and undertake spiritual disxcipline

 

Bersama-sama dengan pendidikan duniawi, engkau harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dan

melaksanakan disiplin spiritual.

                                                                                    (Sri Bhagavan Sathya Baba)

 

KERENDAHAN HATI WUJUD KEBERHASILAN PROSES PELAKSANAAN PENDIDIKAN

 

  1. KEBERHASILAN PROSES PENDIDIKAN DITANDAI OLEH SIKAP OUT PUT YANG RENDAH HATI. TANDA-TANDA ORANG RENDAH HATI ADALAH ORANGNYA TAHU DIRI (T.D) KEMUDIAN BARU PERCAYA DIRI (PD). RUMUSNYA = TD + PD = BAIK, BIJAKSANA

 

  1. KEGAGALAN PROSES PENDIDIKAN DITANDAI DENGANSIKAP OUT PUT YANG TINGGI HATI. TANDA-TANDA ORANG TINGGI HATI ADALAH PERCAYA DIRINYA BERLEBIHAN (PDB) DAN SAMA SEKALI TIDAK TAHU DIRI (SSTTD), TIDAK PERNAH MERASA KURANG (TPMK), RAKUS (R), TIDAK PERNAH MENGHIRAUKAN DHARMA DAN HUKUM KARMA (TPMDHK), KEJAHATAN DIPANDANGNYA SEBAGAI KEBAJIKAN (KDSK). RMUSNYA: SSTTD +TPMK + R + TPMDHK) = RUSAK

 

  1. III.       PENUTUP

 

PENDIDIKAN YANG SEMPURNA MENGEMBANGKAN PERSAUDARAAN SEMESTA

 

  • suhån-mitràry-udàsìna-madhyastha-dveûya-bandhuûu,

            sàdhuûv api ca pàpeûu sama-buddhir viúiûyate.

                                                                                    (Bhagavadgita VI.9)

 

Dia yang tetap bersikap sama di antara kawan-kawannya dan musuh-musuhnya, di antara mereka yang tiada berpihak, di antara mereka yang saling membenci dan berhubungan, di antara para orang suci dan para pendosa, dia berpikiran lebih maju daripada yang lainnya.

 

PENDIDIKAN BERBASIS KESADARAN KOSMIS

  • MEREKA YANG MELIHAT TUHAN ADA DI MANA-MANA DAN MELIHAT SEGALANYA ADA PADA TUHAN, MAKA MEREKA SELALU DALAM LINDUNGAN TUHAN (BHG. VI.29)

 

  • MEREKA YANG JIWANYA TERKONSENTRASI OLEH KESADARAN YOGA, AKAN DAPAT MELIHAT ATMAN ADA PADA SEMUA INSAN DAN SEMUA INSAN ADA PADA ATMAN DI MANA-MANA MEREKA MELIHAT YANG SAMA (BHG. VI.30)

 

  • MEREKA YANG MELIHAT SEGALA SESUATU DALAM PERSAMAAN JIWANYA SENDIRI, BAIK DALAM SUKA MAUPUN DUKA MAKA MEREKALAH YANG DAPAT DISEBUT SEBAGAI ORANG BIJAKSANA YANG SEMPURNA (BHG. VI.32)

________________________

1)       Makalah disampaikan pada Seminar Internasional dalam rangka memaknai Hari Anak-anak Indonesia yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2009, diselenggarakan oleh Fak. Brahma Widya IHDN Denpasar pada tanggal 10 Juni 2009 di Aula IHDN Denpasar

2)       I Ketut Donder, adalah staf Pengajar pada Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar, selain sebagai dosen juga penulis belasan buku teks Hindu, dua di antaranya yang relevan deng konteks seminar ini adalah: SISYA SISTA: Pedoman Menjadi Siswa yang Mulia, ACARYA SISTA : Menjadi Guru dan Dosen yang Bijaksana.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s