Leteh Disini Leteh Disitu

tr>

Tulisan ini saya kutip dari Majalah Raditya Edisi 159 Oktober 2010. Saudara I Wayan Miasa dengan begitu jeli memaparkan fakta di lapangan tentang kontradiktif konsep-konsep kehidupan Masyarakat Bali. Apa yang ditulis oleh Wayan Miasa baru sebagian kecil, masih banyak hal-hal lainnya yang perlu menjadi perhatian kita bersama untuk memperbaiki konsep tata kehidupan bermasyarakat khususnya di Bali sehingga generasi berikutnya karena perkembangan iptek yang membentuk pemikiran kritis tidak menjadi boomerang bagi umat Hindu sendiri.td>

 

Leteh di Sini Leteh di Situ
Kontradiksi dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Oleh ; I Wayan Miasa

Setelah diamati kehidupan kita. di masyarakat, temyata ada banyak hal yang saling bertolak belakang dengan konsep-konsep yang diterapkan di masyarakat kita, khususnya masyarakat Bali. Mereka sering bicara tentang kesucian, lascarya, leteh,
kesepekang, cuntaka dan sebagainya. Tulisan ini hanyalah sebuah catatan kecil tentang keadaan itu dan para pembaca silakan mencari contoh-contoh lainnya yang terjadi di masyarakat..
Ada suatu contoh tentang standar ganda dalam kehidupan kita dalam menilai tentang suci atau tidaknya sebuah tindakan. Misalnya, di sebuah desa pakraman ada larangan bagi warganya untuk lewat di jalan depan sebuah pura.saat membawa jenazah ke kuburan. Hal ini berlaku bagi warga Hindu yang mengusung jenazah dengan cara jalan kaki. Tetapi manakala ada warga non Hindu yang meninggal, ternyata iring-iringan mobil jenazahnya dibiarkan berlalu di depan pura. Sehingga muncul pertanyaan, apakah jazad orang Hindu.lebih leteh dibandingkan jazad warga nonHindu? Lalu bagaimana halnya dengan kapal terbang yang melintas di udara, bukankah kapal itu ngungkulin pura dan bias saja orang yang lagi menstruasi, membawa mayat dan hal-hal lain yang dianggap ngeletehin.
Tambahan pula ada hal-hal yang menarik untuk menentukan tentang kesucian di pura.
Pada saat piodalan, warga yang non Hindu walau berpakaian sopan tetap diwajibkan memakai pakaian adat Bali madia bila ingin memasuki pura. Tetapi saat ada tabuh rah di pura itu, kenapa warganya diperbolehkan menaiki tembok penyengker pura, tak harus memakai pakaian Bali adat madia, bahkan orang boleh Ieluasa ke luar masuk pura, berjualan seenaknya, begitu pula membuang sampah di halaman . pura semaunya tanpa ada teguran.
Kadang-kadang umpatan dilontarkan para penjudi yang tengah asyik bertaruh. Belum lagi anjing yang ikut memasuki pura yang kerap merusak banten persembahan, apakah ini tidak ngeletehin.
Ada juga hal yang menarik untuk disimak secara seksama dalam kehidupan kita, khususnya mengenai perlakuan kepada kenazah orang Bali. Saat warga biasa (sudra) meninggal, iring-iringan jazad di depan pura dianggap leteh, tetapi bagaimana dengan jazad orang yang ngaben dengan bade-nya melebihi atau ngungkulin pura. Bahkan supaya bade tinggi itu bisa lewat, tak jarang kabellistrik diputus sementara waktu, lalu, bagaimana kita melihat fenomena ini?
Contoh lainnya adalah kontradiksi kafe dan pesraman. Kafe-kafe yang kemudian banyak menjurus pada pelanggaran hukum: minum-minuman keras, prostitusi, narkoba dan lain-lain temyata begitu mudah mendirikannya di lingkungan desa pakraman. Tetapi ada sejumlah kasus, jika umat Hindu hendak membangun pesraman, maka banyak dalih dilontarkan untuk menghambatnya.
Suatu hari ada prajuru memungut iuran di suatu pasar. Padahal yang berjualan adalah warga setempat yang memang seharusnya ikut bertanggung jawab atas kebersihan areal itu, tetapi mengapa pedagang kaki lima atau pedagang keliling tidak dipungut iuran. Mereka dengan leluasa bisa berjualan tanpa harus peduli dengan kebersihan dan tak perlu pusing-pusing mengurusi sampah yang dlhasilkan dari usaha dagangnya.
Begitu pula tentang warga yang pindah agama mendapat perlakuan yang berbeda. Begini ceritanya, karena keadaannya miskin mereka beralih agama. Beberapa tahun kemudian ekonominya baik dan warga Hindu begitu menghormatinya. Hal ini berbalik dengan warga kita yang memperrdalam Weda, kenapa mereka dikucilkan, digunjingkan dan dicibir. Dan lucunya lagi warga yang sudah beralih agama itu . dipanggil dengan sebutan terhormat ala tradisi Bali, padahal namanya sudah ditasbihkan (baptis) ala nonHindu. Tetapi argumentasi mereka mengatakan bahwa agama non Hindu tak mengenal warna.
Apa beda penggalian dana lewat sabungan ayam dengan penggalian dana undian berhadiah. Bedanya adalah, kalau undian berhadiah jelas ada transaksi jual-beli. Kalau beruntung ya dapat hadiah, tetapi kalau tidak ya tak apa-apa. Nah, kalau penggalian dana lewat sabungan ayam jelas ada unsur kalah menang dan ada yang dikorbankan.
Bila penggalian dana lewat sabungan ayam diijinkan terus, mungkin suatu saat akan ada penggalian dana lewat lokalisasi, membuat bazzar dengan layanan cewek kafe, penari striptease dan lain-lain.
Dalarn kehidupan kita juga terasa hal yang agak kontradiktif dengan kehidupan Pemangku, Pedanda dan sulinggih lainnya. Pemangku-pemangku di pura sering hldupnya tak diperhatikan, bahkan akan lebih parah lagi bila beliau dari keluarga tak mampu semakin sulit hidupnya. . Dibatasi oleh larangan ini larangan itu tentang sesana kepemangkuan.
Hal berbeda terjadi pada kehidupan sulinggih, seorang yang meraga putus tapi masih suka memakai perhiasan emas di jari-jarinya.
Selain itu ada juga tradisi lain yang juga perlu direnung ulang. Ada sebagian warga Bali yang menanyakan balian atau dasaran tentang nasib roh keluarganya yang telah meninggal. apakah sudah mendapat tempat di alam sana atau belum. Dan jawaban yang sering diberikan oleh dasaran adalah. konon roh keluarga itu sudah menjadi juru sapuh
di Kahyangan. Apakah hanya itu lowongan kerja di alam sana?
Masih ada cara pandang yang kontradiktif lainnya, saat ada orang yang membawa banten dengan cara memangkunya, maka ia dimarahi .oleh orang ruanya. karena dianggap leteh. Bukankah ini sangat aneh, lalu bagaimana dengan orang yang menaruh banten di selangkangannya. Bukankah sekarang banyak orang membawa banten haturan dengan meletakkannya di depan sadel motor atau diwadahi tas kresek digantung di bagian depan motor. Posisi mana. saat pengendara duduk di motor menjadikan banten itu berada di bawah tubuh pengendara. Apakah yang ini tidak leteh?
Semoga dengan memaparkan fakta-fakta mi, yang sesungguhnya semua orang sudah tahu, kita dapat merenungkan ulang cara-cara kita dalarn menjalankan praktik keagamaan. Semoga dengan adanya pemahaman dan pengertian yang komprehensif, kita tidak lagi teljebak oleh aturan yang kita susun sendiri yang ternyata hanya menyusahkan diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s