PANDANGAN HINDU DALAM UPAYA MEMBANGUN KESEPAHAMAN TOKOH AGAMA DALAM MENJAGA DAN MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Kerukunan Umat Beragama tanggal 25 Februari 2015 dilaksanakan oleh Fak. Usuludin, UIN Sunan Gunu Jati, Bandung.

 

donderI Ketut Donder,Lulusan Indology S3 pada Department of Sanskrit Rabindra Bharati University, Calcutta, India. Saat ini sebagai Ketua Program Studi Doktor Ilmu Agama pada Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar. Selain sebagai dosen juga sebagai Governing Council World Hindu Parisad (WHP), juga sebagai Excutive Secretary World Hindu Center (WHC). Juga sebagai koresponden Majalah MEDIA HINDU Jakarta.

Selain itu juga sebagai penulis belasan macam buku teks sains dan agama. Beberapa karya tersebut al: (1) Panca Dhatu Atom dan Atma; (2) Sisya Sista –Pedoman Menjadi Siswa Mulia; (3) Brahmavidya-Teologi Kasih Semesta; (4) Kosmologi Hindu; (5) Acharya Sista – Guru dan Dosen yang Bijaksana; (6) Teologi Sosial; (7) Filsafat Ilmu; (8) Teologi Sanatana Dharma; (9) Meditasi Bio Energi Ratu Bagus, dll.

Setiap orang yang beragama, senantiasa akan bersyukur karena dirinya dinyatakan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara semua mahluk . Julukan itu diperoleh karena manusia memeliki suatu keistimewaan atau keutamaan, yaitu karena manusia memiliki pikiran. Sebutan “manusia” itu sendiri berasal dari kata manah dalam bahasa Sanskrta yang berarti ‘mahluk berpikir’, dan dalam bahasa Inggris menjadi kata man yang juga berarti ‘manusia’ atau ‘mahluk yang memiliki pikiran’. Karena pikiran itulah sehingga manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan manusia untuk membedakan antara yang baik dan buruk disebut juga viveka (discrimination). Berdasarkan konteks makna, maka seorang manusia yang tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sesungguhnya ia “belum layak mendapat predikat sebagai mahluk yang paling mulia”. Oleh sebab itu, setiap manusia sedapat mungkin harus senantiasa berupaya untuk merenungkan kemuliaan kemanusiaannya yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Agar setiap orang senantiasa mampu menyadari dan mempertahankan kemanusiaan, maka setiap orang harus senantiasa saling mencerahi satu sama lain (Bhagavadgita X.9). Yang dimaksud saling mencerahi di sini bukan berarti mengagamakan orang yang sudah beragama, melainkan menyadarkan setiap orang untuk tetap menjaga kemampuannya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Selain sebagai mahluk berpikir, manusia juga memiliki keistimewaan lainnya, yaitu manusia adalah mahluk religius dan mahluk metafisis. Sebagai mahluk religius dan metafisis, manusia sejak awal keberadaanya telah memiliki
kuriositas yang secara naluriah ingin menduga-duga terhadap sesuatu yang ada di balik yang fisik. Oleh sebab itu sejak awal-mula keberadaannya, manusia telah memiliki berbagai pertanyaan menyangkut dirinya sendiri dan yang ada di balik dirinya. Kesadaran paling awal yang diperoleh oleh manusia sesuai dengan tahap perkembangannya adalah bahwa dirinya terdiri dari dua unsure, yaitu badan kasar dalam bahasa sanskerta disebut stula sarira dan badan halus (roh atau Atma) dalam bahasa sanskerta disebut suksma sarira. Kemudian, manusia semakin ingin mengetahui tentang asal-mula dirinya, selain itu manusia juga ingin mengetahui kemana jiwa akan pergi setelah kematian di dunia. Karena itu pelajaran utama dan pertama dalam spiritual berisi tentang pertanyaan: Siapa saya?, dari mana saya?, dan kemana saya nanti setelah kematian di dunia ini?
Dalam teologi Hindu dinyatakan bahwa sifat-sifat atma atau roh yang gaib itu memiliki karakteristik yang mirip dengan sifat-sifat Tuhan (Paramātma). Atma atau roh yang menghuni tubuh manusia itu memiliki sifat bawan yang senantiasa ingin selalu terhubung bahkan ingin menyatu atau bersatu dengan Tuhan. Karena krakteristik atman penghuni tubuh manusia itulah yang senantiasa membuat manusia secara alamiah selalu rindu kepada hal-hal metafisik, yang kemudian menghantarkan manusia sampai pada keyakinan terhadap Tuhan. Itulah sebabnya dalam ajaran Hindu menytakan bahwa tidak ada satupun manusia pun di dunia ini yang tidak percaya pada Tuhan (ber-Tuhan). Walau orang yang paling bodoh sekalipun, asal ia masih ingat pada dirinya dan mencintai dirinya, maka orang itu masih dapat digolongkan sebagai mahluk religius. Karena orang yang masih menyayangi dan mencintai dirinya, berarti ia masih menyadari bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya, yaitu jiwa (roh) sebagai percikan Tuhan yang patut dijaga dan disayangi. Kesadaran dalam diri manusia seperti itulah yang menyebabkan adanya bakat religius yang melekat pada diri setiap orang yang pada akhirnya secara evolusif akan menghantarkan manusia pada kerinduannya terhadap hal-hal yang metafisis dan finalnya kepada Tuhan.
Jika seseorang menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi dan atau karakter metafisi yang pada akhirnya bertalian dengan keyakinan terhadap Tuhan, maka orang itu tidak akan ada keinginan untuk mengganggu keyakinan metafisis atau agama yang dipeluk oleh orang lain. Bahkan ia akan membantu memperkuat keyakinan setiap orang, selain itu ia tidak akan menganggap orang lain itu sebagai orang yang tersesat.
Hal ini sangat relevan dengan sloka-sloka dalam Bhagavadgita berikut:

ye yathà màý prapadyante tàýs tathaiva bhajàmy aham,
mama vartmànuvartante manuûyàá pàrtha sarvaúaá.
(Bhagavadgita IV.11)

Bagaimana pun (jalan atau cara) manusia mendekati-Ku, Aku terima. Manusia mengikuti jalan-Ku melalui berbagai jalan

yo-yo yàý-yàý tanuý bhaktaá úraddhayàrcitum icchati,
tasya-tasyà ‘calàý úraddhàý tàý eva vidadhàmy aham.
(Bhagavadgita VII.21)

Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta yang dilaksanakan dengan penuh keyakinan, maka Aku akan menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap

sa tayà úraddhayà yuktàs   tasyàràdhanam ìhate,
labhate ca tataá kàmàn   mayaiva vihitàn hi tàn.
(Bhagavadgita VII.22)

Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka sibuk pada keyakinan, maka melalui wujud keyakinan itu pula mereka akan memperoleh yang mereka harapkan, semunya itu sesungguhnya hanya dikabulkan oleh-Ku

sattvànurùpà sarvasya úraddhà bhavati bhàrata,
úraddhà-mayo ‘yaý puruûo yo yac-chraddhaá sa eva saá.
(Bhagavadgita XVIII.3)

“Kepercayaan tiap-tiap individu, tergantung kepada sifat wataknya manusia terbentuk oleh kepercayaannya, apapun kepercayaannya demikian pulalah dia adanya”

Pudja (1978) almarhum mantan Dirjen Bimas Hindu dan Budha Kantor Departemen Agama RI periode 1971-1986 menambahkan bahwa úraddhà atau keyakinan (terhadap Tuhan dan atau ajaran agama) bukanlah kepercayaan yang diterima begitu saja, tetapi suatu perjuangan dalam mengejar realisasi diri melalui mengkonsentrasikan daya pikirannya terhadap apa yang dicita-citakan. Keyakinan merupakan tekanan dari sang Roh pada manusia, yaitu kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan yang baik, bukan hanya dalam aturan ilmu pengetahuan tetapi dalam seluruh tatanan kehidupan spiritual. Keyakinan sebagai tanda kebenaran yang mengarah ke dalam diri manusia, dan menunjuk kepada obyek yang nantinya mengarah pada pencerahan batin.
Puja juga menyatakan bahwa sloka-sloka di atas memberikan pandangan yang universal dari ajaran Gità terkait dengan keyakinan manusia terhadap yang metafisik. Melalui sloka tersebut dapat diketahui bahwa Tuhan senantiasa menanggapi setiap penyembahnya dengan bebas dan kemudian memberkahinya sesuai dengan keinginan hatinya masing-masing. Tuhan tidak akan memupus harapan siapapun, tetapi justeru membantu semua harapan setiap manusia agar dapat tumbuh sesuai dengan kodratnya masing-masing. Nama dan wujud dipergunakan untuk mencapai Yang Tanpa Wujud, sehingga wujud apapun yang disukai dapat dipergunakan. Para pemikir Hindu menyadari bahwa berbagai macam jalan dapat ditempuh dalam usaha untuk mendekati Tuhan; karena tak mungkin bagi siapapun juga untuk dapat memberikan gambaran dari Realitas Tertinggi itu. Dari titik pandang metafisika (pammàrtha), tak ada manifestasi apapun yang dapat dipakai untuk mewakili ”Kenyataan Mutlak” itu, sementara dari sudut pandang pengalaman (vyàvahàra), masing-masing wujud yang dipilih memiliki validitas tertentu; dan wujud-wujud yang kita puja membantu kita untuk menyadari keberadaan sang diri batin kita. Selama obyek pemujaan itu tertanam kuat, ia akan merasuki pikiran dan batin serta bersemayam di sana dan menjadi keyakinan yang kuat.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa setelah keyakinan itu mengkristal, maka keyakinannya itu akan menjadi harta yang paling mulia semacam kemuliaan intan-berlian bagi orang materialistis. Karena demikian mulia dan berharganya keyakinan itu, maka orang yang memiliki keyakinan yang teguh pada kebenaran ajaran agamanya, ia akan berani mengorbankan nyawa untuk agama yang dianutnya. Ini salah satu bentuk misteri keyakinan atau agama. Karena itu, seseorang jangan sampai menghina ajaran agama apapun yang sangat dihargai oleh para penganutnya.
kuriositas yang secara naluriah ingin menduga-duga terhadap sesuatu yang ada di balik yang fisik. Oleh sebab itu sejak awal-mula keberadaannya, manusia telah memiliki berbagai pertanyaan menyangkut dirinya sendiri dan yang ada di balik dirinya. Kesadaran paling awal yang diperoleh oleh manusia sesuai dengan tahap perkembangannya adalah bahwa dirinya terdiri dari dua unsure, yaitu badan kasar dalam bahasa sanskerta disebut stula sarira dan badan halus (roh atau Atma) dalam bahasa sanskerta disebut suksma sarira. Kemudian, manusia semakin ingin mengetahui tentang asal-mula dirinya, selain itu manusia juga ingin mengetahui kemana jiwa akan pergi setelah kematian di dunia. Karena itu pelajaran utama dan pertama dalam spiritual berisi tentang pertanyaan: Siapa saya?, dari mana saya?, dan kemana saya nanti setelah kematian di dunia ini?
Dalam teologi Hindu dinyatakan bahwa sifat-sifat atma atau roh yang gaib itu memiliki karakteristik yang mirip dengan sifat-sifat Tuhan (Paramātma). Atma atau roh yang menghuni tubuh manusia itu memiliki sifat bawan yang senantiasa ingin selalu terhubung bahkan ingin menyatu atau bersatu dengan Tuhan. Karena krakteristik atman penghuni tubuh manusia itulah yang senantiasa membuat manusia secara alamiah selalu rindu kepada hal-hal metafisik, yang kemudian menghantarkan manusia sampai pada keyakinan terhadap Tuhan. Itulah sebabnya dalam ajaran Hindu menytakan bahwa tidak ada satupun manusia pun di dunia ini yang tidak percaya pada Tuhan (ber-Tuhan). Walau orang yang paling bodoh sekalipun, asal ia masih ingat pada dirinya dan mencintai dirinya, maka orang itu masih dapat digolongkan sebagai mahluk religius. Karena orang yang masih menyayangi dan mencintai dirinya, berarti ia masih menyadari bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya, yaitu jiwa (roh) sebagai percikan Tuhan yang patut dijaga dan disayangi. Kesadaran dalam diri manusia seperti itulah yang menyebabkan adanya bakat religius yang melekat pada diri setiap orang yang pada akhirnya secara evolusif akan menghantarkan manusia pada kerinduannya terhadap hal-hal yang metafisis dan finalnya kepada Tuhan.
Jika seseorang menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi dan atau karakter metafisi yang pada akhirnya bertalian dengan keyakinan terhadap Tuhan, maka orang itu tidak akan ada keinginan untuk mengganggu keyakinan metafisis atau agama yang dipeluk oleh orang lain. Bahkan ia akan membantu memperkuat keyakinan setiap orang, selain itu ia tidak akan menganggap orang lain itu sebagai orang yang tersesat.

Hal ini sangat relevan dengan sloka-sloka dalam Bhagavadgita berikut :

ye yathà màý prapadyante tàýs tathaiva bhajàmy aham,
mama vartmànuvartante manuûyàá pàrtha sarvaúaá.
(Bhagavadgita IV.11)
‘Bagaimana pun (jalan atau cara) manusia mendekati-Ku, Aku terima. Manusia mengikuti jalan-Ku melalui berbagai jalan’.
 
yo-yo yàý-yàý tanuý bhaktaá úraddhayàrcitum icchati,
tasya-tasyà ‘calàý úraddhàý tàý eva vidadhàmy aham.
(Bhagavadgita VII.21)
‘Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta yang dilaksanakan dengan penuh keyakinan, maka Aku akan menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap’.
 
sa tayà úraddhayà yuktàs   tasyàràdhanam ìhate,
labhate ca tataá kàmàn   mayaiva vihitàn hi tàn.
(Bhagavadgita VII.22)
‘Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka sibuk pada keyakinan, maka melalui wujud keyakinan itu pula mereka akan memperoleh yang mereka harapkan, semunya itu sesungguhnya hanya dikabulkan oleh-Ku’.
 
sattvànurùpà sarvasya úraddhà bhavati bhàrata,
úraddhà-mayo ‘yaý puruûo yo yac-chraddhaá sa eva saá.
(Bhagavadgita XVIII.3)
‘Kepercayaan tiap-tiap individu, tergantung kepada sifat wataknya manusia terbentuk oleh kepercayaannya, apapun kepercayaannya demikian pulalah dia adanya’.

Pudja (1978) almarhum mantan Dirjen Bimas Hindu dan Budha Kantor Departemen Agama RI periode 1971-1986 menambahkan bahwa úraddhà atau keyakinan (terhadap Tuhan dan atau ajaran agama) bukanlah kepercayaan yang diterima begitu saja, tetapi suatu perjuangan dalam mengejar realisasi diri melalui mengkonsentrasikan daya pikirannya terhadap apa yang dicita-citakan. Keyakinan merupakan tekanan dari sang Roh pada manusia, yaitu kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan yang baik, bukan hanya dalam aturan ilmu pengetahuan tetapi dalam seluruh tatanan kehidupan spiritual. Keyakinan sebagai tanda kebenaran yang mengarah ke dalam diri manusia, dan menunjuk kepada obyek yang nantinya mengarah pada pencerahan batin.
Puja juga menyatakan bahwa sloka-sloka di atas memberikan pandangan yang universal dari ajaran Gità terkait dengan keyakinan manusia terhadap yang metafisik. Melalui sloka tersebut dapat diketahui bahwa Tuhan senantiasa menanggapi setiap penyembahnya dengan bebas dan kemudian memberkahinya sesuai dengan keinginan hatinya masing-masing. Tuhan tidak akan memupus harapan siapapun, tetapi justeru membantu semua harapan setiap manusia agar dapat tumbuh sesuai dengan kodratnya masing-masing. Nama dan wujud dipergunakan untuk mencapai Yang Tanpa Wujud, sehingga wujud apapun yang disukai dapat dipergunakan. Para pemikir Hindu menyadari bahwa berbagai macam jalan dapat ditempuh dalam usaha untuk mendekati Tuhan; karena tak mungkin bagi siapapun juga untuk dapat memberikan gambaran dari Realitas Tertinggi itu. Dari titik pandang metafisika (pammàrtha), tak ada manifestasi apapun yang dapat dipakai untuk mewakili ”Kenyataan Mutlak” itu, sementara dari sudut pandang pengalaman (vyàvahàra), masing-masing wujud yang dipilih memiliki validitas tertentu; dan wujud-wujud yang kita puja membantu kita untuk menyadari keberadaan sang diri batin kita. Selama obyek pemujaan itu tertanam kuat, ia akan merasuki pikiran dan batin serta bersemayam di sana dan menjadi keyakinan yang kuat.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa setelah keyakinan itu mengkristal, maka keyakinannya itu akan menjadi harta yang paling mulia semacam kemuliaan intan-berlian bagi orang materialistis. Karena demikian mulia dan berharganya keyakinan itu, maka orang yang memiliki keyakinan yang teguh pada kebenaran ajaran agamanya, ia akan berani mengorbankan nyawa untuk agama yang dianutnya. Ini salah satu bentuk misteri keyakinan atau agama. Karena itu, seseorang jangan sampai menghina ajaran agama apapun yang sangat dihargai oleh para penganutnya.

Secara lengkap makalah ini bisa diunduh DISINI

Seminar-Nasional-Kesepahaman-Tokoh-Agama-UIN-SGJ-Bandung-Feb-2015-Edit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s