Tujuan Yajña Sesa

oleh : Made Murti

Sebagaimana halnya dalama pelaksanaan Yajña-Yajña yang lainnya, seperti : Dewa Yajña, Rsi Yajña, Pitra Yajña, Manusa Yajña, Bhuta Yajña, dan jenis Yajña yang lainnya. Semua jenis Yajña itu mengandung makna dan memiliki tujuan yang sangat mulia dan spiritual sesuai dengan jenis dan tingkatan Yajña yang dilaksanakannya. Namun yang jelas bahwa Yajña itu sebagai wujud rasa bakti dan terima kasih yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya agar senantiasa dianugerahi kesejahteraan dan kebahagiaan yang kekal dan abadi di dunia ini maupun di akhirat atau moksartham jagadhita ya ca iti dharma.
Dalam hidup ini perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Hidup ini bukan hanya untuk diabdikan pada kepentingan jasmani melulu, namun perlu juga dipenuhi kebutuhan rohani. Hidup ini juga bukan hanya untuk mengumpulkan materi atau harta kekayaan yang melimpah ruah tanpa adanya tuntutan spiritual serta pembinaan mental yang berkesinambungan.

Demikian pula halnya bahwa makanan ini tidak hanya untuk dapat mengenyangkan perut saja, bukan pula untuk memuaskan kebutuhan pangan melulu. Hidup ini bukan hanya untuk makan dan selalu bermewah-mewah tanpa ada rasa kepedulian terhadap yang lainnya. Yang terpenting bahwa sesungguhnya makanan itu kita nikmati setelah terlebih dahulu dipersembahkan sebagai Yajña dan sisa Yajña inilah sebagai wujud anugerah Tuhan untuk dinikmati yang tidak mengurangi kadar gizi dan kesehatannya.
Secara sederhana dikemukakan di sini tujuan melaksanakan Yajña sesa bagi umat Hindu, antara lain :
Sebagai persembahan yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya yang telah memberikan anugerahnya. Sebagai wujud rasa bakti dan terima kasih yang setulus-tulusnya ke hadapan Hyang Widhi yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi. Untuk mengharmoniskan dan menyelaraskan antara adanya kebutuhan jasmani yang berupa makanan dengan kebutuhan rohani melalui pelaksanaan Yajña sesa. Sebagai sarana persembahan dan penghormatan terhadap makhluk hidup yang lainnya yang juga merupakan ciptaan Hyang Widhi Wasa. Untuk memupuk rasa kedisiplinan dan toleransi sesama serta dapat mengutamakan kepentingan pribadi atau dirinya sendiri.
Demikianlah beberapa tujuan pelaksanaan Yajña sesa yang dilaksanakan setiap hari (Nitya Karma) guna terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini.

Pelaksanaan Yajña Sesa

Dalam uraian di depan ada di tegaskan bahwa adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena Yajña, adanya Yajña karena karma. Ini mengandung makna yang sangat mulia bagi manusia. Hidup ini senantiasa memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang seimbang antara jasmani dengan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus berusaha dengan karmanya guna membuahkan hasil atau pahala.
Demikian juga bahwa manusia untuk tetap menunaikan kewajibannya untuk melaksanakan Yajñanya, baik Yajña yang dilakukan setiap hari atau nitya karma maupun Yajña yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Pelaksanaan Yajña sesa merupakan jenis Yajña yang dilaksanakan oleh umat Hindu sehari-hari atau Nitya Karma. Yajña sesa adalah persembahan yang tulus ikhlas dengan mempersembahkan makanan berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, garam, dan air, yang dilaksanakan setelah selesai memasak yang dipersembahkan pada tempat-tempat tertentu. Yajña sesa juga disebut Ngejot atau Banten Saiban. Perlu diingat bahwa pelaksanaan Yajña sesa/Ngejot/Saiban ini dilaksanakan setelah selesai memasak nasi dan belum makan yang dipersembahkan setiap hari.

Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Yajña sesa, sebagai berikut :

Daun pisang, yang dipotong segi empat agak kecil dan dibuat sedemikian rupa yang berbentuk tangkih atau taledan yang digunakan sebagai alasnya. Nasi, nasi ini sebagai persembahan pokok dari Yajña sesa, apabila belum masak lauknya ataupun yang lainnya, biasanya dapat pula dengan suguhan nasi dan diisi sedikit garam. Ini mengandung makna bahwa nasi merupakan makanan pokok manusia yang bermula dari beras dan melalui proses memasak ini yang disertai dengan bantuan kekuatan Dewa Brahma dengan panasnya api, kekuatan Dewa Wisnu dengan air, dan kekuatan Dewa Siwa untuk “Nyupat” atau menyucikan beras sehingga bisa masak berubah menjadi nasi. Garam, ini sebagai sarinya air laut yang terasa asin dan rasa asin ini sangat diperlukan bagi kebutuhan manusia serta makanan yang akan dimakan tidak terasa hambar. Makna terkandung di dalamnya adalah segala usaha maupun Yajña supaya dapat dirasakan atau dapat dinikmati hasilnya, tanpa ada rasa maka sia-sia usaha itu. Lebih dari itu dengan “rasa” bahwa manusia sadar atau merasakan dirinya berutang kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Lauk-pauk, ini juga merupakan bahan untuk Yajña sesa untuk melengkapi rasa yang terkandung dalam suguhan itu. Lauk pauk yang kita masak maka ini pun juga dipersembahkan sebagai Yajña sesa. Apapun bahannya lauk-pauk itu perlu juga dipersembahkan, baik dari ikan, daging, buah-buahan atau biji-bijian. Sayuran, inilah jenis makanan yang dibuat dari daun-daunan yang segar dan hijau yang juga dapat melengkapi persembahan Yajña sesa. Air juga sebagai sarana untuk melengkapi melaksanakan Yajña sesa. Seperti halnya manusia jika habis makan perlu air untuk minum sebagai pengantar makanan dan sebagai tanda kepuasan. Dengan minum air kita merasa tenang dan sejuk serta pikiran tidak menjadi tegang, karena kekuatan Dewa Wisnu berfungsi untuk menenangkan dan menyejukan kehidupan umatnya.Demikian halnya juga dalam melaksanakan Yajña sesa diakhiri dengan persembahan air sebagai bukti bahwa suguhan itu telah dilaksanakan.
Setelah persiapan untuk melaksanakannya telah dilengkapi sesuai dengan bahan-bahan tersebut di atas dan telah ditata sedemikian rupa (ditanding), maka suguhan itu siap untuk dipersembahkan.

Pelaksanaan Yajña Sesa atau Ngejot ini ditujukan kehadapan :

    1) Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya (Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya) suguhan ditempatkan diatas atap rumah atau di atas tempat tidur pada pelangkiran yang telah disediakan.

    2) Sang Hyang Brahma bertempat di tungku atau tempat memasak.

    3) Sang Hyang Wisnu bertempat di tempat menyimpan air atau bisa juga disumur.

    4) Sang Hyang Amerta atau Dewi Sri bertempat di penyimpanan beras atau nasi.

    5) Sang Hyang Pertiwi bertempat di halaman rumah yang juga ditujukan kehadapan bhuta-bhuti.

    6) Kehadapan Penunggun Karang bertempat di Tugu.

    7) Kehadapan Bhatara-Bhatari dan roh suci leluhur bertempat di Merajan dan Sanggar yang lainnya.

    8) Serta pada tempat-tempat yang lainnya yang dipandang perlu dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Demikian hakikat pelaksanaan Yajña Sesa tersebut di atas dapat bermakna bahwa Hindu dimanapun berada senantiasa membiasakan diri untuk mendahulukan kepentingan umum atau para dharma dari pada kepentingan pribadi atau swadharma. Juga berarti untuk mendahulukan dharma bakti dan kewajiban daripada pamrih atau kehendak menurut hak untuk diri sendiri.Semoga bermanfaat bagi kita semuanya
Om Santih Santih Santih Om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s